ACEH / SUMATRA – Deretan bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan longsor kembali menghantam berbagai wilayah di Pulau Sumatra. Data terbaru menunjukkan dampak yang kian mengerikan: 303 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.
Tragedi ini melanda tiga provinsi sekaligus—Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar)—dan menjadi salah satu bencana terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Korban Jiwa Terus Bertambah
BNPB merinci total 303 korban meninggal berasal dari:
-
Sumatera Utara: 166 orang meninggal, 143 masih hilang.
-
Aceh: 47 orang meninggal, 51 orang hilang, dan delapan warga lainnya mengalami luka-luka.
-
Sumatera Barat: 90 orang meninggal, dengan puluhan warga masih belum ditemukan.
Jumlah ini dipastikan masih dapat bertambah seiring proses pencarian yang menghadapi medan ekstrem dan akses yang rusak parah.
Puluhan Ribu Warga Mengungsi
Selain korban jiwa, bencana ini memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka.
Di Aceh, lebih dari 13.174 jiwa mengungsi, sementara total warga terdampak mencapai 97.384 jiwa akibat banjir dan longsor yang meluas di berbagai kabupaten.
Di Sumatera Utara dan Sumbar, puluhan ribu warga juga terdampak dengan ribuan rumah rusak atau terendam, jaringan listrik terputus, dan desa-desa terisolasi.
Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat kekurangan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Evakuasi Terhambat, Desa Terisolasi
Tim SAR gabungan dari BNPB, Basarnas, TNI–Polri, relawan, dan pemerintah daerah terus berjibaku di lapangan. Sejumlah alat berat dikerahkan untuk membuka akses jalan yang tertimbun longsor.
Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu, tingginya debit sungai, serta rusaknya jembatan dan jalan utama membuat proses evakuasi dan pencarian korban berjalan lambat.
Beberapa daerah di Aceh bahkan harus menggunakan alat komunikasi darurat karena jaringan telekomunikasi lumpuh total.
Duka Warga dan Kerusakan Meluas
Selain menelan korban jiwa, bencana ini menyisakan luka mendalam bagi warga. Banyak desa yang sebelumnya aman kini luluh lantak. Rumah hanyut, lahan pertanian rusak, peternakan hilang, dan perahu nelayan terseret arus.
Di banyak titik, warga hanya bisa menyelamatkan pakaian di badan. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok paling rentan di pengungsian.
“Semua hilang. Rumah kami sudah rata dengan tanah,” ungkap seorang warga Aceh Utara yang kini mengungsi di posko sementara.
Pemerintah Tetapkan Tanggap Darurat
Gubernur Aceh telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 28 November 2025. Tujuannya untuk mempercepat penanganan, distribusi bantuan, serta mengoptimalkan kehadiran negara di tengah masyarakat.
Langkah serupa juga diambil oleh pemerintah provinsi Sumut dan Sumbar.
Seruan Bantuan untuk Warga Sumatra
Dengan kondisi lapangan yang masih berat dan jumlah pengungsi yang terus bertambah, pemerintah mengimbau seluruh pihak—lembaga kemanusiaan, relawan, dunia usaha, hingga masyarakat umum—untuk memperkuat solidaritas.
Kebutuhan mendesak di lapangan meliputi:
- makanan siap saji
- air bersih
- selimut dan tenda
- tenaga medis dan obat-obatan
- peralatan bayi dan kebutuhan perempuan
- dukungan psikososial bagi anak-anak
Bencana besar yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem dan kerentanan lingkungan semakin nyata. Di tengah duka mendalam, semangat gotong royong dan solidaritas nasional kembali diuji untuk membantu saudara-saudara kita di Sumatra. (***)

Berita