![]() |
| Foto hanya ilustrasi |
Penemuan jasad korban bermula dari kecurigaan kerabat yang kehilangan kontak dengan korban sejak Rabu (16/4). Merasa khawatir, saksi mendatangi rumah korban untuk melakukan pengecekan.
"Saksi mendatangi rumah korban karena ponselnya tidak bisa dihubungi sejak Rabu. Setibanya di depan pintu rolling door, saksi mencium aroma tidak sedap yang sangat menyengat," ujar Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro, Sabtu (18/4).
Sekitar pukul 09.00 WIB, saksi bersama warga sekitar memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Di sana, mereka menemukan korban sudah dalam posisi tergantung. Kejadian tersebut segera dilaporkan ke pihak kepolisian dan tim medis.
Dugaan Depresi karena Penyakit
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban diketahui mengidap penyakit menahun dan sudah berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik diduga menjadi pemicu korban mengalami tekanan mental hebat.
"Korban diduga mengalami depresi akibat penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Jenazah kemudian dievakuasi ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk penanganan lebih lanjut," tambah Iptu Argo.
Imbauan Kepolisian
Menanggapi peristiwa tragis ini, Polresta Sleman mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan anggota keluarga yang sedang mengalami tekanan hidup.
"Kami menekankan bahwa mengakhiri hidup bukanlah solusi atas masalah apa pun. Kami meminta masyarakat untuk mencari jalan keluar dengan berkomunikasi kepada keluarga, teman, atau tenaga profesional jika menghadapi tekanan mental yang berat," pungkasnya. (Red)

Berita