![]() |
| Ket: Foto hanya ilustrasi yang dibuat dengan kecerdasaan buatan |
Lahan tersebut kini bertransformasi menjadi jalan tani strategis, jalur penunjang wisata, hingga lokasi pembangunan dua waduk vital. Menariknya, seluruh biaya pengerjaan jalan dan pembangunan waduk tersebut ditanggung sepenuhnya secara pribadi oleh Bapak Sake.
Membangun Kemandirian dari Hati
Hingga Kamis (16/04/2026), alat berat dan warga tampak bahu-membahu menuntaskan pengerjaan di lapangan. Kehadiran waduk di lahan hibah ini menjadi oase bagi warga, menjamin ketersediaan air bersih sekaligus menjadi cadangan air krusial saat musim kemarau melanda.
Saat ditemui di lokasi, Bapak Sake mengungkapkan alasan sederhana namun mendalam di balik aksi dermawannya tersebut.
"Tanah ini hanyalah titipan. Jika bisa digunakan untuk memudahkan rezeki petani, mengalirkan air bersih, dan membuka pintu wisata bagi kampung kita, mengapa tidak? Saya hanya ingin melihat anak cucu kita ke depan hidup lebih mudah," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Menghapus Beban Petani
Bagi Bapak Sake, motivasi terbesarnya adalah melihat kemajuan desa. Ia tak ingin lagi melihat petani harus memikul hasil kebun berkilo-kilometer karena akses yang sulit. Ia juga berharap akses wisata yang terbuka nantinya mampu mendongkrak ekonomi warga setempat.
"Biar jalan ini jadi amal. Yang penting petani tidak lagi kesulitan, dan saat kemarau warga tidak lagi krisis air," tambahnya dengan rendah hati.
Apresiasi dan Harapan Warga
Langkah berani Bapak Sake menuai rasa hormat yang mendalam dari warga RT 01. Salah satu perwakilan warga menyatakan bahwa aksi ini adalah bentuk nyata dari semangat gotong royong yang kini mulai langka.
"Tidak semua orang rela memberikan tanah pribadinya, apalagi membiayai pembangunannya sendiri. Langkah beliau benar-benar menginspirasi kami semua," tuturnya haru.
Aksi nyata Bapak Sake dan keluarga membuktikan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu anggaran pemerintah. Inisiatif yang lahir dari hati mampu menciptakan perubahan yang konkret. Jalan yang kini terbentang dan waduk yang mulai terisi air adalah "warisan sosial" yang nilainya tak lekang oleh waktu.
Kini, warga Desa Sarang Tiung menatap masa depan dengan penuh optimisme. Mereka percaya, kebaikan yang ditanam hari ini akan menjadi buah kesejahteraan bagi generasi mendatang. (Siti Rahmah)


Berita