BANJAR, kalsletoday.com - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masih ada peserta didik di pelosok Indonesia yang baru pertama kali mengenal komputer saat memasuki jenjang SMA.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus inspirasi bagi Ermasari, S.Pd, Guru Informatika di SMA Negeri 1 Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dalam menghadirkan pembelajaran yang inklusif dan bermakna.
Melalui praktik baik bertajuk "Dari Klik Pertama Menuju Masa Depan: Praktik Baik Mengajarkan Informatika kepada Siswa Pedalaman yang Baru Mengenal Komputer", Ermasari membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah penghalang untuk menciptakan transformasi digital di lingkungan sekolah.
Sekolah yang berada di Desa Bunipah, kawasan pesisir dengan mayoritas masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan petani, menghadapi sejumlah tantangan.
Selain keterbatasan akses internet, sebagian besar peserta didik ternyata belum pernah menggunakan komputer secara mandiri sebelum memasuki bangku SMA.
"Hasil asesmen awal menunjukkan masih banyak siswa yang belum mampu menyalakan komputer, menggunakan mouse, membuka aplikasi, hingga menyimpan dokumen. Bahkan ada yang belum bisa membedakan monitor dengan CPU," ungkap Ermasari.
Dari 30 peserta didik yang mengikuti asesmen awal, hanya 40 persen yang mampu menyalakan komputer, 27 persen dapat menggunakan mouse, dan hanya 13 persen yang mampu menyimpan dokumen.
Data tersebut menjadi dasar bagi Ermasari untuk mengubah strategi pembelajaran.
Alih-alih langsung mengenalkan aplikasi komputer atau internet, ia memilih memulai dari keterampilan paling mendasar.
Setiap pertemuan diisi dengan praktik langsung mengenal komponen komputer, belajar menggunakan mouse dan keyboard, hingga membangun keberanian peserta didik dalam mengoperasikan perangkat secara mandiri.
Pendekatan yang diterapkan juga dibuat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. CPU diibaratkan sebagai "otak" komputer, monitor sebagai "mata", keyboard sebagai alat memberi perintah, dan mouse sebagai "tangan" yang menggerakkan aktivitas di layar.
Tak hanya itu, Ermasari lebih banyak berperan sebagai fasilitator dibandingkan pemberi ceramah.
Ia mendampingi siswa satu per satu, memberikan arahan tanpa langsung mengambil alih mouse maupun keyboard, sehingga setiap peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang membangun rasa percaya diri.
Keterbatasan akses internet yang hanya mampu melayani sekitar 11 dari 30 komputer secara bersamaan pun disiasati dengan sistem pembelajaran bergiliran. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok.
Saat satu kelompok mengakses internet, kelompok lain berlatih keterampilan dasar seperti mengetik, membuat folder, atau mengenali fungsi perangkat komputer sebelum bergantian.
Strategi tersebut terbukti efektif.
Hasil asesmen akhir menunjukkan peningkatan kemampuan yang sangat signifikan. Seluruh siswa berhasil menguasai keterampilan menyalakan komputer dan mengetik nama sendiri dengan capaian 100 persen.
Kemampuan menggunakan mouse meningkat menjadi 97 persen, membuka aplikasi 97 persen, membuat folder 90 persen, serta menyimpan dokumen mencapai 87 persen.
Salah satu kisah yang paling membekas bagi Ermasari adalah pengalaman mendampingi seorang siswa berinisial R. Pada pertemuan pertama, siswa tersebut mengaku belum pernah menggunakan komputer dan hanya memandangi perangkat di hadapannya tanpa mengetahui cara menyalakannya.
Beberapa minggu kemudian, R berubah menjadi salah satu siswa yang mampu mengoperasikan komputer secara mandiri. Ia bahkan mulai membantu teman-temannya yang masih mengalami kesulitan.
"Bagi saya, angka-angka peningkatan itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap persentase ada keberanian, kepercayaan diri, dan semangat belajar peserta didik yang tumbuh," tutur Ermasari.
Ia menilai transformasi digital tidak selalu dimulai dari teknologi paling canggih. Di banyak sekolah pedesaan, perubahan justru diawali dari keberanian seorang anak menekan tombol daya komputer untuk pertama kalinya, menggerakkan mouse, mengetik namanya sendiri, hingga berhasil menyimpan dokumen hasil pekerjaannya.
Pengalaman mengajar di Desa Bunipah juga memperkuat keyakinannya bahwa pemerataan pendidikan digital bukan semata soal penyediaan perangkat dan internet, tetapi bagaimana guru mampu menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
"Keberhasilan pembelajaran bukan hanya ketika seluruh materi selesai diajarkan, tetapi ketika peserta didik mengalami perubahan positif dalam cara berpikir, cara belajar, dan memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi teknologi," ujarnya.
Melalui praktik baik tersebut, Ermasari berharap pengalaman sederhana dari ruang laboratorium komputer di SMA Negeri 1 Aluh-Aluh dapat menjadi inspirasi bagi para pendidik di berbagai daerah bahwa setiap anak, di mana pun berada, berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk memasuki dunia digital.
Bagi peserta didik di Desa Bunipah, sebuah klik pertama bukan sekadar menghidupkan komputer, tetapi menjadi langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah di era digital. (Tim)
Berita