Berita

Breaking News

Dosen Kimia ULM Kembangkan Modul Praktikum Berbasis Lahan Basah untuk Perkuat Kompetensi Guru MGMP Banjarmasin

BANJARMASIN — Pembelajaran kimia di sekolah tidak selalu harus berlangsung dengan peralatan laboratorium yang lengkap. Fenomena yang ada di lingkungan sekitar pun dapat menjadi sumber belajar yang menarik dan bermakna bagi siswa.

Semangat itulah yang diangkat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pengembangan Modul Praktikum Kimia Berbasis Lahan Basah untuk Penguatan Kompetensi Guru MGMP Banjarmasin.” Kegiatan ini dilaksanakan oleh dosen Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sebagai upaya memperkuat kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran kimia yang kontekstual, sederhana, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Kegiatan PkM dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan mitra, pengembangan modul praktikum, pelatihan dan workshop, hingga pendampingan penggunaan modul.

Program tersebut berangkat dari kondisi masih belum optimalnya pelaksanaan praktikum kimia di sekolah serta adanya keterbatasan bahan ajar praktikum yang kontekstual dan mudah diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, guru didorong untuk melihat lingkungan sekitar sebagai laboratorium pembelajaran. Karakteristik wilayah Kalimantan Selatan yang identik dengan ekosistem lahan basah menjadi salah satu konteks yang dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa memahami konsep-konsep kimia secara lebih nyata.

Guru Dibekali Keterampilan Merancang Praktikum Sederhana

Salah satu kegiatan utama berupa pelatihan dan workshop bagi guru MGMP Kimia Banjarmasin yang dilaksanakan pada 29 Juli 2026 di SMAN 7 Banjarmasin.

Dalam kegiatan tersebut, para guru mendapatkan penguatan kompetensi terkait pendekatan pembelajaran kimia berbasis konteks lokal. Tidak hanya membahas konsep, peserta juga diajak untuk merancang kegiatan praktikum sederhana dengan memanfaatkan bahan dan alat yang relatif mudah diperoleh.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi sekolah dalam melaksanakan kegiatan praktikum, terutama ketika terdapat keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium.

Para guru juga diperkenalkan pada cara mengaitkan berbagai fenomena yang terdapat di lingkungan lahan basah dengan konsep-konsep kimia. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat mengajak siswa mengamati, mengeksplorasi, dan memahami penerapan ilmu kimia dalam kehidupan sehari-hari.

Selain memperoleh materi, peserta juga mendapatkan pengalaman langsung menggunakan modul praktikum yang telah dikembangkan. Guru melakukan simulasi kegiatan praktikum sehingga dapat memahami tahapan pelaksanaan sekaligus melihat kemungkinan adaptasi kegiatan berdasarkan kondisi dan fasilitas yang tersedia di sekolah masing-masing.

Membawa Kimia Lebih Dekat dengan Kehidupan Siswa

Pembelajaran berbasis konteks lokal dinilai penting karena dapat membuat materi yang dipelajari siswa terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Lingkungan lahan basah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan dapat menjadi sumber belajar yang potensial untuk mengembangkan pembelajaran kimia yang lebih bermakna.

Melalui modul praktikum yang dikembangkan, guru diharapkan memiliki alternatif bahan ajar yang tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga mampu menghubungkan konsep kimia dengan fenomena nyata di lingkungan sekitar.

Dengan pendekatan tersebut, praktikum diharapkan tidak lagi dipandang sekadar sebagai kegiatan pelengkap pembelajaran, tetapi menjadi sarana bagi siswa untuk membangun pemahaman melalui pengalaman langsung.

Ketua PDWA, Amalia Khairunnisa, turut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Sementara itu, materi dan pendampingan kegiatan menghadirkan narasumber Utami Irawati dan Aulia Ramdhani Arfan.

Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa, yakni Alda, Rahmi, Sabrina, dan Zuhratun Ni'mah, yang turut mendukung pelaksanaan program.

Kolaborasi antara dosen, mahasiswa, dan guru MGMP tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong inovasi pembelajaran kimia di sekolah. Tidak hanya memperkuat kompetensi pendidik, kegiatan ini juga membuka ruang bagi pengembangan bahan ajar yang lebih sesuai dengan karakteristik lingkungan dan kebutuhan peserta didik.

Ke depan, modul praktikum berbasis lahan basah diharapkan dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan oleh guru-guru kimia di Banjarmasin sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang kontekstual, sederhana, aplikatif, dan dekat dengan kehidupan siswa.

Dengan memanfaatkan potensi lingkungan sekitar, pembelajaran kimia diharapkan menjadi lebih menarik sekaligus menumbuhkan kesadaran peserta didik terhadap kekayaan dan pentingnya menjaga ekosistem lahan basah sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. (Tim)

© Copyright 2022 - Kalsel Today