![]() |
| Foto hanya ilustrasi |
Dalam unggahan yang beredar luas, penumpang tersebut mengaku terkejut ketika diminta membayar ratusan ribu rupiah untuk perjalanan yang dinilai tidak terlalu jauh. Unggahan itu kemudian dibagikan ribuan kali dan memancing diskusi mengenai transparansi tarif transportasi konvensional di ruang publik.
Banyak pengguna media sosial menilai tarif tersebut tidak masuk akal jika dibandingkan dengan tarif transportasi daring untuk rute yang sama. Sebagian netizen bahkan menyebut praktik tersebut sebagai bentuk "getok harga" yang berpotensi merugikan konsumen.
“Kalau benar jaraknya dekat, tarif segitu jelas tidak wajar,” tulis salah satu pengguna media sosial yang ikut mengomentari unggahan viral tersebut.
Di sisi lain, sejumlah warganet meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dan memastikan kesepakatan tarif sebelum menggunakan jasa transportasi konvensional. Mereka menilai komunikasi yang jelas antara pengemudi dan penumpang menjadi faktor penting untuk menghindari kesalahpahaman.
Kasus ini kembali memunculkan perdebatan lama mengenai keberadaan ojek pangkalan di tengah perkembangan transportasi berbasis aplikasi. Banyak pihak menilai setiap penyedia jasa transportasi memiliki hak untuk menentukan tarif, namun harus tetap mengedepankan prinsip kewajaran dan keterbukaan kepada pelanggan.
Pengamat transportasi menilai kejadian yang viral di media sosial dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai hak-hak konsumen. Selain itu, diperlukan pengawasan yang lebih baik agar tidak muncul praktik tarif yang dianggap memberatkan penumpang.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kebenaran nominal tarif yang viral tersebut. Namun, peristiwa ini telah memicu perhatian luas publik dan menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan di media sosial sepanjang akhir pekan. (Red)

Berita