BANJARMASIN, kalseltoday.com – Peluncuran mini album BlackStone bertajuk “Suara Dunia, Karya Kita” berlangsung semarak di Bakhtiar Sanderta, Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Sabtu (11/7/2026). Perhelatan yang dirangkai dengan semangat perayaan Hari Musik Dunia itu menjadi panggung kolaborasi lintas generasi sekaligus membawa misi besar: menghidupkan kembali gairah musik rock di Banua.
Acara berlangsung dalam dua sesi sejak sore hingga malam. Sejumlah band pelajar dan musisi lokal lebih dahulu tampil sebelum BlackStone mengambil alih panggung pada sesi utama.
Kejutan tersaji ketika seorang lady rocker Indonesia era 1990-an Connie Dio hadir secara dadakan dan naik ke atas panggung. Ia membawakan lagu “Cinta Kita” bersama vokalis BlackStone, Miftah Koso, kemudian melanjutkan penampilannya dengan “Setitik Air”, lagu dari album awal kariernya.
Suasana semakin memuncak ketika lagu legendaris “The Final Countdown” milik Europe dibawakan bersama Habib Fathur Rahman atau Habib Basirih, yang hadir mewakili PAPPRI Kalimantan Selatan. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu momen yang menyita perhatian dalam rangkaian peluncuran mini album BlackStone.
BlackStone Usung Karya Sendiri
Vokalis BlackStone, Miftah Koso, mengatakan konser peluncuran mini album tersebut menjadi momentum penting bagi perjalanan musikal bandnya.
“BlackStone tampil dengan formasi saya sendiri, Miftah Koso, dan Erol sebagai vokalis Scammer. Kemudian Hurries Fadillah di gitar, Dede Japun di bass, Yudhi Professor di keyboard, serta Julian Fitri alias Boboy dan Agiey di posisi drummer. Khusus konser launching ini, kami juga diperkuat Dedy Horizon sebagai additional drummer,” kata Miftah.
Menurut dia, BlackStone memilih menjadikan karya sendiri sebagai kekuatan utama dalam penampilannya. Lagu-lagu yang dibawakan hampir seluruhnya merupakan karya Erol.
“Lagu yang kami bawakan antara lain ‘Metal Rock N Roll’, ‘Panggung Rock’, ‘Orang Gila’, ‘Ayah’, ‘Lelaki Telanjang’, dan ‘Gangster’. Harapan kami, lagu-lagu BlackStone bisa diterima penggemar musik, khususnya pencinta genre rock dan metal,” ujarnya.
Bagi Miftah, peluncuran mini album tersebut bukan sekadar memperkenalkan karya, tetapi juga membawa pesan kepada sesama musisi agar tidak berhenti berkarya.
“Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman untuk tetap bermusik dan menghasilkan karya. Kami ingin bersama-sama menghidupkan kembali musik rock di Banua,” tutur Miftah.
Ketua Forum Jakarta, Babeh Rizal Akbar Sarupi, yang hadir dalam acara tersebut, mengapresiasi keberhasilan peluncuran mini album BlackStone. Menurut dia, kehadiran band-band pelajar dari sejumlah SMA di Banjarmasin menjadi salah satu bagian penting dari kegiatan tersebut.
“Kita turut bangga peluncuran mini album BlackStone berjalan sukses. Yang juga membanggakan adalah hadirnya generasi penerus musik Indonesia dari sekolah-sekolah SMA di Banjarmasin,” kata Rizal.
Ia menilai ruang berekspresi bagi generasi muda perlu terus diperluas. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival musik rock antarsekolah maupun antarkampus dengan dukungan pemerintah daerah.
“Perlu ada festival-festival rock antarsekolah atau kampus. Acara ini juga berkolaborasi dengan teman-teman dari pemerintah provinsi, khususnya Dinas Pendidikan,” ujarnya.
Menurut Rizal, kegiatan seni dan musik dapat menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memanfaatkan waktu dengan kegiatan produktif.
“Acara semacam ini memang diperlukan supaya generasi muda bisa berekspresi dan berkreasi. Mereka memiliki ruang untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif sehingga terhindar dari berbagai hal negatif, seperti tawuran dan lainnya,” katanya.
Ia juga mendorong lahirnya gerakan regenerasi musisi rock di Kalimantan Selatan.
“Musik rock di Banua membutuhkan regenerasi. Festival-festival harus terus digelar agar lahir penerus musisi rock yang mencintai musik dan berani berkarya. Musik adalah bagian dari kebudayaan yang harus terus ditumbuhkembangkan,” ujar Rizal.
Rekaman Mandiri dan Perjalanan Menemukan Formasi
Bassist BlackStone, Dede, mengatakan rangkaian kegiatan berlangsung dalam dua sesi. Sejumlah band tampil pada sesi pertama sejak sore, kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan utama pada malam hari.
“Acara berlangsung dua sesi. Sesi pertama sore tadi berjalan sukses dengan penampilan beberapa band, kemudian dilanjutkan sesi kedua malam ini. BlackStone tampil membawakan enam lagu sendiri,” kata Dede.
Ia mengungkapkan perjalanan BlackStone hingga mencapai formasi saat ini tidak berlangsung singkat. Pergantian personel sempat terjadi seiring perjalanan band sebelum akhirnya menemukan formasi yang dinilai solid.
“Band kami beberapa kali mengalami pergantian personel. Seiring berjalannya waktu, akhirnya bertemu dengan orang-orang yang kemudian menjadi personel tetap. Kami lalu melakukan proses recording di studio sendiri pada 2025,” ujarnya.
Dede mengatakan peluncuran mini album menjadi bagian dari visi BlackStone untuk kembali menggairahkan musik rock di Kalimantan Selatan.
“Visi dan misi kami melalui peluncuran album ini adalah ikut menghidupkan kembali musik rock di Banua. Untuk teman-teman di luar sana, mari bersama-sama menghidupkan kembali semangat rock era 1990-an dan menjaga agar musik rock tetap eksis di Indonesia,” kata Dede.
Mengusung semangat “Music Connects the World”, acara bertajuk “Suara Dunia, Karya Kita” tersebut menjadi ruang pertemuan musisi lintas generasi. Sebanyak 15 band dan kelompok musik dijadwalkan ambil bagian, mulai dari band pelajar hingga musisi lokal.
Mereka antara lain SMA Negeri 1 Banjarmasin, SMA Negeri 2 Banjarmasin, SMA Negeri 7 Banjarmasin, Motor Tenk, ZND Reuni, D.Boom, Keracakbiak, Papadaan, My One, Ngirun, Lyric, Station Corner, Fotmat Kusong, Hendra Sound, dan Barock.
Kehadiran musisi senior, band lokal, hingga kelompok musik pelajar menjadikan peluncuran mini album BlackStone lebih dari sekadar konser. Panggung tersebut membawa pesan mengenai pentingnya regenerasi, ruang berekspresi, dan keberanian menghasilkan karya sendiri.
Dengan slogan “Berbeda Suara, Satu Irama. Dari Banua, untuk Dunia”, BlackStone berharap momentum tersebut menjadi salah satu pemantik kebangkitan musik rock di Kalimantan Selatan.
Satu irama, satu dunia. Suara kita, karya kita.(@dw)



Berita